Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Berdampak, Keluhan Gangguan Pernapasan di Purwakarta Meningkat

BERITALOKAL

9/7/2026

PURWAKARTA — Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai menjadi perhatian di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan, sementara rumah sakit mencatat adanya kecenderungan peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan gangguan pernapasan.

Direktur Utama RSUD Bayu Asih Purwakarta, Tri Muhammad Hani, mengatakan dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan kunjungan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), khususnya pasien dengan keluhan batuk hingga sesak napas.

Meski demikian, pihak rumah sakit belum dapat memastikan peningkatan tersebut secara langsung disebabkan oleh paparan abu vulkanik. Menurut Tri, keluhan pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari musim kemarau, udara berdebu, kondisi lingkungan hingga aktivitas vulkanik.

“Dalam tiga hari terakhir, ada paparan debu atau abu vulkanik juga dimungkinkan menjadi salah satu faktor tambahan yang turut memengaruhi keluhan pernapasan pada masyarakat,” ujar Tri, Senin (7/9/2026).

Berdasarkan data pada malam 6 September 2026, terdapat delapan pasien yang datang ke IGD dengan keluhan batuk dan sesak napas. Dari jumlah tersebut, dua pasien diperbolehkan pulang, dua pasien menjalani rawat inap, sedangkan empat pasien dirujuk ke rumah sakit lain karena kapasitas ruang perawatan RSUD Bayu Asih penuh.

Jika pola kunjungan serupa berlangsung konsisten pada setiap sif, jumlah pasien dengan keluhan tersebut diperkirakan mencapai 20 hingga 24 kasus per hari. Namun, angka itu masih berupa estimasi dan membutuhkan pemantauan lebih lanjut.

Tri menegaskan, rumah sakit belum dapat menyimpulkan adanya hubungan langsung antara paparan abu vulkanik dengan peningkatan kasus gangguan pernapasan.

“Kami belum dapat menyimpulkan bahwa peningkatan kasus ini secara langsung disebabkan oleh abu vulkanik, karena diperlukan evaluasi medis mendalam terhadap riwayat paparan dan kondisi klinis masing-masing pasien,” katanya.

Pemkab Purwakarta Tingkatkan Kesiapsiagaan

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Purwakarta meningkatkan langkah kesiapsiagaan melalui Surat Edaran Nomor 300.2.3/2185/UMUM/2026 tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Kabupaten Purwakarta terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Surat edaran tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 119/KS.01.01/DINKES tertanggal 6 September 2026.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein meminta masyarakat tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak sebaran abu vulkanik.

“Kita tidak perlu panik, tetapi harus tetap waspada dan siap. Seluruh perangkat daerah harus bergerak sesuai tugasnya masing-masing, terutama dalam memastikan kesehatan dan keselamatan masyarakat,” ujar Om Zein.

Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak serta mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah.

“Yang paling penting masyarakat tetap tenang, mengikuti imbauan pemerintah, mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak, dan memperhatikan kondisi lingkungan,” katanya.

Melalui surat edaran tersebut, Dinas Kesehatan diminta mengaktifkan kesiapsiagaan puskesmas, RSUD, pos kesehatan, serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Ketersediaan tenaga kesehatan, ambulans, oksigen, pulse oximeter, obat-obatan, masker atau respirator, hingga alat pelindung diri juga diminta dipastikan.

Selain itu, Dinas Kesehatan melakukan pemantauan dan surveilans harian terhadap potensi gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), iritasi mata, dan gangguan kulit.

Disdik Terapkan Pembelajaran Daring

Upaya perlindungan juga diterapkan di sektor pendidikan. Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta menerbitkan Surat Edaran Nomor 000.1/3683-Sekre/2026 yang mengatur pelaksanaan pembelajaran secara daring bagi peserta didik.

Pembelajaran dari rumah diberlakukan pada 7 hingga 11 September 2026 sebagai langkah preventif untuk melindungi peserta didik dan warga satuan pendidikan dari potensi dampak sebaran abu vulkanik.

Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta, Sadiyah, M.Pd., turut menginstruksikan pejabat dan pegawai di lingkungan Disdik untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Petugas kebersihan juga diminta melakukan pembersihan lingkungan kantor secara hati-hati agar abu yang mengendap tidak kembali beterbangan dan terhirup.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengimbau masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik menggunakan masker dan pelindung mata, mengurangi aktivitas di luar rumah ketika terjadi hujan abu, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi agar abu tidak mudah masuk ke dalam rumah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga terus melakukan pemantauan terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan analisis citra satelit pada 6 September 2026, sebaran abu vulkanik terdeteksi mencapai sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat.

Dengan meningkatnya kewaspadaan pemerintah dan adanya laporan kenaikan keluhan pernapasan di RSUD Bayu Asih, masyarakat Purwakarta diimbau tidak panik, tetapi tetap waspada dan menerapkan langkah perlindungan diri.

Penggunaan masker, pembatasan aktivitas di luar ruangan saat kondisi udara terdampak abu, serta mengikuti informasi resmi pemerintah menjadi langkah penting. Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan yang semakin memburuk.(pangreka.id)