Dispangtan Purwakarta Siapkan 77 Pompa Air untuk Antisipasi Kekeringan

LOKAL

6/23/20262 min read

PURWAKARTA – Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi potensi kekeringan yang dapat berdampak pada sektor pertanian selama musim kemarau. Upaya tersebut dilakukan guna menjaga produktivitas lahan pertanian dan memastikan ketahanan pangan daerah tetap terjaga.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Hadyanto Purnama, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai persiapan menghadapi dampak perubahan iklim yang berpotensi menyebabkan berkurangnya pasokan air untuk lahan pertanian, khususnya tanaman padi.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah penyediaan sarana pompanisasi melalui bantuan 77 unit pompa air berukuran 3 inci. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 unit disalurkan kepada kelompok tani, sementara dua unit lainnya disiagakan untuk brigade Dispangtan guna mendukung penanganan di lapangan.

“Untuk menghadapi kekeringan, kami sudah menyiapkan 77 unit pompa air 3 inci. Sebanyak 75 unit diperuntukkan bagi kelompok tani, sementara dua unit digunakan untuk brigade Dinas Pangan dan Pertanian. Bantuan tersebut juga merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian untuk Kabupaten Purwakarta,” ujar Hadyanto, Senin (22/6).

Menurutnya, bantuan pompa air tersebut diharapkan mampu membantu petani memenuhi kebutuhan pengairan saat debit air mulai berkurang akibat musim kemarau. Ketersediaan sarana pengairan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian dan menekan risiko gagal panen.

Selain pompanisasi, Dispangtan Purwakarta juga mendorong percepatan masa tanam padi agar tanaman dapat tumbuh optimal sebelum puncak musim kemarau terjadi. Langkah ini dinilai efektif untuk mengurangi dampak kekurangan air pada fase pertumbuhan tanaman.

Di samping itu, petani juga didorong menggunakan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi kering. Salah satu varietas yang direkomendasikan adalah padi biofortifikasi Inpago 13 Fortiz yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap keterbatasan air.

“Antisipasi lainnya yaitu percepatan tanam padi dan penggunaan varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan, salah satunya padi biofortifikasi dengan varietas Inpago 13 Fortiz,” katanya.

Untuk memastikan kondisi di lapangan tetap terkendali, Dispangtan juga mengintensifkan pemantauan melalui petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Monitoring dilakukan secara berkala guna mendeteksi lebih dini dampak perubahan iklim terhadap tanaman serta menentukan langkah penanganan yang diperlukan.

Dengan dukungan sarana pengairan, percepatan tanam, penggunaan varietas tahan kekeringan, serta pengawasan intensif di lapangan, Dispangtan Purwakarta optimistis sektor pertanian tetap mampu berproduksi secara optimal meski menghadapi ancaman musim kemarau dan perubahan iklim.(pangreka.id)