Add your promotional text...
Gelar Wicara Radio PRO 93.10 FM: Psikolog Ajak Masyarakat Kenali Langkah 3L untuk Tangani Luka Psikologis
LOKAL
7/1/20262 min read


PURWAKARTA – Luka tidak selalu tampak secara fisik. Kehilangan orang tercinta, putus hubungan, tekanan pekerjaan, hingga perundungan (*bullying*) dapat meninggalkan luka psikologis yang, jika tidak segera ditangani, berpotensi berkembang menjadi gangguan kesehatan mental. Hal tersebut disampaikan Psikolog Klinis Tita Rosmiati, S.Psi., M.M., M.Psi., dalam Gelar Wicara Radio PRO 93.10 FM Diskominfo Purwakarta bertajuk "Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis" yang disiarkan pada Rabu, 1 Juli 2026.
Menurut Tita, setiap orang berpotensi mengalami luka psikologis tanpa memandang usia. Kondisi tersebut perlu ditangani sedini mungkin, sebagaimana luka fisik yang membutuhkan pertolongan pertama agar tidak semakin parah.
"Kalau tangan terluka, kita langsung mencari obat atau plester. Begitu juga ketika pikiran dan perasaan terluka, kita perlu memberikan pertolongan pertama agar kondisinya tidak semakin berat," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Tita memperkenalkan konsep Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis melalui pendekatan 3L, yaitu Look, Listen, dan Link. Tahap Look mengajak masyarakat untuk peka terhadap perubahan perilaku orang di sekitarnya dan tidak mengabaikan tanda-tanda yang muncul. Tahap Listen dilakukan dengan menjadi pendengar yang baik, memberikan ruang bagi seseorang untuk bercerita tanpa menghakimi maupun bereaksi secara berlebihan. Adapun Link berarti menghubungkan individu yang membutuhkan dengan layanan bantuan profesional apabila kondisi psikologisnya sudah tidak dapat ditangani oleh keluarga atau orang terdekat.
"Orang terdekat justru menjadi penolong pertama yang paling penting karena mereka biasanya paling cepat menyadari adanya perubahan perilaku," kata Tita.
Selain itu, Tita menjelaskan bahwa salah satu cara memahami kondisi seseorang yang mengalami luka psikologis adalah dengan mengenali lima tahapan kedukaan (grief), yaitu penolakan (denial), kemarahan (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance). Namun, ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki respons yang berbeda sehingga tahapan tersebut tidak selalu dialami secara berurutan.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk segera mencari bantuan profesional apabila kondisi psikologis mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau berlangsung dalam waktu yang lama. Layanan yang dapat diakses antara lain psikolog, layanan konseling di sekolah maupun perguruan tinggi, serta Bale Titirah Dinas Sosial P3A Kabupaten Purwakarta.
Melalui edukasi mengenai pertolongan pertama pada luka psikologis, masyarakat diharapkan semakin peduli terhadap kesehatan mental, mampu mengenali tanda-tanda awal pada diri sendiri maupun orang lain, serta memberikan dukungan yang tepat agar masalah tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius.(pangreka.id)