Purwakarta Istimewa, Ngaguar Purwadaksi Hidupkan Sejarah dan Teguhkan Jati Diri Daerah

LOKAL

6/28/20262 min read

PURWAKARTA – Pagelaran budaya Ngaguar Purwadaksi: Sejarah Purwakarta menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Purwakarta ke-195 dan Kabupaten Purwakarta ke-58. Kegiatan yang digelar di Lapangan Jalur Bola Mini, Kampung Sukaresmi, Desa Sindangpanon, Kecamatan Bojong, Sabtu (27/6/2026) malam, menjadi ruang refleksi perjalanan sejarah sekaligus peneguhan komitmen membangun Purwakarta Istimewa melalui pelestarian budaya dan penguatan jati diri daerah.

Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan pagelaran yang menghadirkan komedian Sule, budayawan Ayi Kurnia, Ceu Popon, Ki Dalang Wawan Dede Amung Sutarya, dan Kang Oni. Seluruh pertunjukan dikemas dalam balutan seni, budaya, dan humor yang mengajak masyarakat mengenang perjalanan panjang lahirnya Purwakarta sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap warisan budaya para leluhur.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein menegaskan, Hari Jadi bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum memahami sejarah sebagai pijakan membangun masa depan. Menurutnya, kemajuan daerah hanya dapat dicapai melalui kepemimpinan yang konsisten berpihak kepada rakyat serta menjaga nilai-nilai budaya.

"Hidup harus konsisten. Pemimpin juga harus konsisten mencintai rakyat, bekerja untuk rakyat, dan menjaga amanah. Sejarah mengajarkan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab melanjutkan perjuangan pendahulunya. Karena itu, semangat Hari Jadi harus menjadi dorongan untuk terus mewujudkan Purwakarta Istimewa yang maju, berbudaya, melayani, dan menyejahterakan masyarakat," ujar Om Zein.

Ia menegaskan, pembangunan Purwakarta tidak boleh tercerabut dari akar sejarah dan budaya. Nilai-nilai yang diwariskan para leluhur harus menjadi pijakan dalam merumuskan kebijakan, memperkuat pelayanan publik, serta menjaga kebersamaan masyarakat sebagai modal utama pembangunan daerah.

Dalam kesempatan itu, budayawan Ayi Kurnia mengulas perjalanan sejarah Purwakarta sejak asal-usul penamaannya hingga perkembangan pemerintahan daerah. Ia menjelaskan, nama Purwakarta berasal dari kata purwa yang berarti permulaan dan karta yang bermakna sejahtera atau tenteram. Filosofi tersebut menjadi doa sekaligus cita-cita agar Purwakarta tumbuh sebagai daerah yang maju, damai, dan menyejahterakan masyarakatnya.

Ayi juga memaparkan perjalanan administrasi Purwakarta. Setelah pemekaran wilayah pada 1949, Kabupaten Karawang melahirkan Purwakarta dan Subang. Selanjutnya, pada 1968, Purwakarta dan Subang resmi menjadi kabupaten mandiri. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Raden Ronggo Waluyo, Raden A.A. Mukhtar, Raden Abu Bakar, Mukdas Dasuki, Drs. Sudarna T.M., H. Bunyamin Dudi, S.H., hingga Drs. Lili Hambali.

Menurutnya, perjalanan pembangunan memasuki babak baru pada 2008 ketika masyarakat untuk pertama kalinya memilih bupati secara langsung. Dedi Mulyadi terpilih dan mengusung visi 9 Lengkah Ngawangun Purwakarta, yaitu pembangunan yang menjadikan budaya dan kearifan lokal sebagai ruh pembangunan daerah. Visi tersebut diwujudkan melalui penguatan infrastruktur, pendidikan berkarakter, pelayanan kesehatan, pengembangan pertanian, pelestarian lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, tata kelola pemerintahan yang baik, serta peningkatan kesejahteraan warga.

Semangat pembangunan berbasis budaya itu kemudian dilanjutkan pada masa kepemimpinan Anne Ratna Mustika periode 2018–2023. Setelah masa transisi pemerintahan di bawah Penjabat Bupati Benni Irwan, kepemimpinan Purwakarta dilanjutkan oleh Bupati Saepul Bahri Binzein (Om Zein) sejak 2025 yang meneruskan semangat pembangunan berlandaskan visi 9 Lengkah Ngawangun Purwakarta sebagai fondasi kemajuan daerah.

Pagelaran Ngaguar Purwadaksi menjadi rangkaian Hari Jadi yang sarat makna. Tidak hanya menghadirkan hiburan, kegiatan ini juga mengajak masyarakat memahami sejarah, menghormati jasa para pendahulu, serta memperkuat identitas daerah. Melalui semangat Purwakarta Istimewa, Pemerintah Kabupaten Purwakarta menegaskan bahwa pembangunan harus terus berjalan secara berkesinambungan dengan menjadikan sejarah, budaya, dan kebersamaan masyarakat sebagai fondasi menuju Purwakarta yang semakin maju, berdaya saing, dan sejahtera.(pangreka.id)