Setahun Pasar Sasagaran, Kuliner Tradisional Dangdeur Jadi Penggerak Ekonomi Desa

BERITALOKAL

9/27/2026

PURWAKARTA – Pasar Sasagaran di Desa Dangdeur, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, memasuki tahun pertama pengelolaannya dengan mengusung kuliner tradisional sebagai daya tarik sekaligus penggerak aktivitas ekonomi masyarakat desa.

Milangkala ke-1 Pasar Sasagaran digelar pada Minggu (27/9/2026), bertepatan dengan Milangkala Desa Dangdeur ke-43 dan Milangkala ke-1 Lingkung Seni Galura Jomantara.

Perayaan berlangsung dengan rangkaian kegiatan seni dan budaya, di antaranya Mapag Budaya, tari jaipong Maung Lugay, paduan suara, prosesi potong tumpeng hingga hiburan seniman lokal. Penyerahan sertifikasi halal secara simbolis juga menjadi bagian dari kegiatan.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein hadir bersama unsur Muspika Bungursari, pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, Karang Taruna serta warga.

Mengangkat Kuliner Tradisional

Sejak diresmikan pada 24 Agustus 2025, Pasar Sasagaran dikembangkan sebagai pasar tematik yang mengangkat kuliner khas dan potensi lokal Desa Dangdeur.

Pasar yang beraktivitas pada akhir pekan tersebut menghadirkan beragam makanan tradisional, seperti surabi, getuk, gemblong, katimus, opak, kue ali hingga tuweug.

Kepala Desa Dangdeur Tatang Taryana mengatakan, keberadaan Pasar Sasagaran tidak hanya diarahkan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga seni dan budaya Sunda.

Konsep tersebut membuat aktivitas ekonomi di pasar berjalan beriringan dengan upaya mengenalkan kembali kuliner tradisional dan potensi budaya desa kepada masyarakat.

Omzet Disebut Capai Rp7 Miliar

Dalam peringatan satu tahun Pasar Sasagaran, Om Zein mengapresiasi perkembangan pasar yang dinilai semakin memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Ia menyebut pendapatan pasar meningkat dari sekitar Rp18 juta pada awal pengelolaan hingga mencapai sekitar Rp7 miliar dalam satu tahun.

“Ya, Rp7 miliar dalam satu tahun ini. Kita berharap semua desa di Purwakarta punya tema-tema seperti Pasar Sasagaran, dengan ciri khasnya masing-masing,” ujar Om Zein.

Menurutnya, perkembangan tersebut membuat Pasar Sasagaran tidak lagi sekadar menjadi tempat transaksi jual beli, tetapi mulai berkembang sebagai salah satu destinasi wisata kuliner di Kabupaten Purwakarta.

“Ini menjadi salah satu wisata kuliner di Purwakarta. Saya yakin ke depannya akan muncul Pasar Sasagaran lainnya,” katanya.

Om Zein menilai kekuatan Pasar Sasagaran terletak pada keberadaan kuliner tradisional yang memiliki karakter dan cita rasa khas.

“Karena ada khasnya, makanan-makanan tradisional yang tidak disuguhkan di tempat-tempat lain, dengan ciri khasnya masing-masing,” ujarnya.

Bagi Pemerintah Desa Dangdeur, perjalanan satu tahun Pasar Sasagaran menjadi momentum untuk terus melakukan pembenahan, baik dari sisi pengelolaan maupun kenyamanan, agar pasar semakin tertata dan mampu menjadi ikon desa.

Milangkala pertama Pasar Sasagaran sekaligus menandai upaya Desa Dangdeur mengembangkan potensi kuliner dan budaya lokal sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, dengan tetap mempertahankan identitas Sunda yang menjadi ciri khasnya.(pangreka.id)