Setelah 24 Tahun Direncanakan, TPPAS Legok Nangka Resmi Dibangun, Siap Ubah Sampah Jadi Listrik pada 2029

REGIONAL

7/30/20262 min read

BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi memulai pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka di Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. Proyek strategis yang telah direncanakan sejak 2002 ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan sampah di kawasan Bandung Raya sekaligus menghasilkan energi listrik dari sampah.

Groundbreaking TPPAS Legok Nangka dilaksanakan pada Rabu (29/7/2026). Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 2029 setelah melalui masa konstruksi sekitar 41 bulan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan pembangunan TPPAS Legok Nangka menjadi tonggak penting dalam penyelesaian persoalan sampah di Bandung Raya yang selama ini masih bergantung pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti dengan kapasitas yang semakin terbatas.

"Hari ini kita mendapatkan tiga berkah besar yang hasilnya akan kita rasakan pada tahun 2029. Pertama, persoalan sampah di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi akan mendapatkan solusi," ujar Dedi.

Menurutnya, kehadiran fasilitas tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga memberikan manfaat lain bagi masyarakat. TPPAS Legok Nangka akan memperkuat pasokan energi listrik di Jawa Barat sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

"Berkah kedua adalah kita akan memperoleh tambahan energi listrik yang akan memperkuat sistem kelistrikan dan mendukung investasi. Berkah ketiga adalah lingkungan akan menjadi lebih bersih. Udara menjadi lebih baik. Jumlah pohon harus semakin banyak," katanya.

TPPAS Legok Nangka dirancang melayani pengelolaan sampah dari empat daerah di kawasan Bandung Raya, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Sampah yang masuk akan diolah menggunakan teknologi waste to energy sehingga tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menghasilkan energi listrik.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menjelaskan proyek tersebut merupakan hasil kerja sama antara perusahaan swasta nasional dan perusahaan asal Jepang. Menurutnya, fasilitas ini akan menjadi salah satu proyek percontohan pengelolaan sampah modern di Indonesia.

"Groundbreaking TPPAS Legok Nangka ini akan memecahkan persoalan tumpukan sampah yang ada di Jawa Barat. Sampah akan terolah sehingga memberikan dampak lingkungan yang lebih baik, sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat," ujar Yuliot.

Ia menambahkan, TPPAS Legok Nangka diproyeksikan mampu menghasilkan listrik sekitar 40 megawatt (MW) serta menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja selama proses pembangunan hingga operasional.

Selain itu, fasilitas tersebut diperkirakan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 311 ribu ton karbon dioksida ekuivalen. Nilai investasi proyek ini mencapai sekitar 400 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp7,2 triliun.

Dedi mengungkapkan pembangunan TPPAS Legok Nangka merupakan hasil proses panjang yang melibatkan sejumlah gubernur Jawa Barat sebelumnya. Menurutnya, gagasan tersebut akhirnya dapat diwujudkan setelah seluruh regulasi terpenuhi, investor tersedia, dan kesepakatan harga jual listrik kepada PLN berhasil dicapai.

"Provinsi sejak kepemimpinan Pak Ahmad Heryawan, kemudian Pak Bey Machmudin sampai hari ini berhasil mewujudkan seluruh ide gagasan itu dalam langkah yang lebih nyata. Ada investasinya, ada investornya, dan ada pelaksanaan kegiatannya setelah seluruh regulasi terpenuhi berdasarkan rekomendasi dari Kementerian ESDM," katanya.

Ia juga memastikan proses pembangunan proyek strategis tersebut akan berlangsung aman. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama aparat penegak hukum, kata Dedi, tidak akan memberikan ruang bagi praktik premanisme yang berpotensi menghambat jalannya pembangunan.

Sambil menunggu TPPAS Legok Nangka beroperasi pada 2029, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan langkah jangka pendek untuk mengurangi volume sampah, salah satunya melalui pemasangan alat pengolah sampah sederhana menjadi briket di setiap kelurahan, sebagaimana yang telah dicontohkan di kawasan Gedung Sate.

Ke depan, pemerintah juga berencana mengembangkan model pengelolaan sampah terpadu serupa di sejumlah wilayah lain, seperti Bogor Raya, Depok, dan Bekasi Raya, sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah modern sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia.(pangreka.id)